Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Shin Tae-yong: Masih Ada Kesempatan Indonesia Lolos ke Paris
Olahraga
20 jam yang lalu
Shin Tae-yong: Masih Ada Kesempatan Indonesia Lolos ke Paris
2
Langkah-langkah Mudah Klaim Asuransi Mobil All Risk, Auto Diterima!
Umum
22 jam yang lalu
Langkah-langkah Mudah Klaim Asuransi Mobil All Risk, Auto Diterima!
3
Promosi dan Degradasi di Timnas U-16 Selama TC di Yogyakarta
Olahraga
19 jam yang lalu
Promosi dan Degradasi di Timnas U-16 Selama TC di Yogyakarta
4
PT Pembangunan Jaya Ancol Bukukan Pendapatan Rp 255,6 Miliar
Pemerintahan
19 jam yang lalu
PT Pembangunan Jaya Ancol Bukukan Pendapatan Rp 255,6 Miliar
5
Sekda DKI Kukuhkan 171 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji
Pemerintahan
19 jam yang lalu
Sekda DKI Kukuhkan 171 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji
6
Ketum PSSI Bangga dengan Perjuangan Garuda Muda
Olahraga
20 jam yang lalu
Ketum PSSI Bangga dengan Perjuangan Garuda Muda

Ketua MUI Sumbar: Islam Tak Perlu Diberi Label Nusantara, Berkemajuan dan Wasathiyah

Ketua MUI Sumbar: Islam Tak Perlu Diberi Label Nusantara, Berkemajuan dan Wasathiyah
Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar. (hidayatullah)
Sabtu, 13 Oktober 2018 19:00 WIB
PADANG - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat, Buya Gusrizal Gazahar, menegaskan, Islam sudah sempurna, tidak perlu lagi diberi label apapun.

Dikutip dari republika.co,id, karena alasan itulah, kata Buya Gusrizal, MUI Sumbar menolak konsep Islam Nusantara. MUI Sumbar, tak hanya menolak Islam Nusantara, tapi juga menolak konsep Islam Berkemajuan yang digagas Muhammadiyah dan Islam Wasathiyah yang digagas MUI Pusat.

''Dalam keputusan kami MUI Sumatra Barat itu kan jelas, Islam tidak perlu dilabel lagi dengan tambahan apapun. Istilah Islam itu sudah sempurna bagi kami di Ranah Minang,'' ujar Buya Gusrizal saat dihubungi republika.co.id, Jumat (13/10).

Menurut dia, jika Islam diberikan embel-embel atau label akan menimbulkan banyak masalah dan akan membuat bingung umat Islam. Seperti halnya Islam Nusantara, menurut dia, konsep itu muncul sejak 2015 lalu. Namun, kata dia, dalam sejarahnya ternyata banyak nahdliyin yang juga tidak sepakat dengan Islam Nusantara tersebut.

''Di 2015 sendiri baca saja sejarahnya, kawan-kawan nahdliyin juga tidak semuanya sepakat kan. Lihat saja itu, di dalamnya saja sampai 2016 ada Bahtsul Masail di NU Jatim, dinyatakan di situ belum ada pengertian yang definisi terkait itu,'' ucapnya.

Kemudian, lanjut dia, dalam implementasinya Islam Nusantara juga terdapat perbedaan di antara pandangan tokoh NU. Dia pun mempertanyakan kenapa di dalam Islam Nusantara itu juga ada pembenturan antara Islam Arab dan Islam Nusantara. 

''Kenapa mulai ada perbenturan-pembenturan Islam Arab dan Islam Nusantara dan berbagai macam,'' ucapnya.

Hal tersebut, menurut dia, justru akan membuat perpecahan di internal umat Islam. Karena itu, dia berharap agar Islam Nusantara cukup dijalankan di internal NU saja, sehingga persatuan umat Islam tetap terjaga.

''Saya berharap kalau kita betul serius ingin menjaga persatuan umat, sudahlah itu konsep kelompok, jalankan saja dalam kelompoknya,'' katanya.

Dia mengatakan, sudah saatnya umat Islam memahami posisinya masing-masing dalam kehidupan berbangsa, sehingga menjadi bagian dalam kebersamaan. Namun, kata dia, yang terjadi di negeri ini justru seolah-olah dipaksa untuk menggunakan konsep Islam dari kelompok Islam tertentu. 

''Jadi kalau orang menjadi bagian kebersamaan, dia harus mengakui ada eksistensi orang lain. Selama tidak keluar dari konsep kehidupan bersama maka akan saling menghargai,'' jelasnya. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam
wwwwwwhttps://143.198.234.52/sonic77https://159.223.193.153/https://64.23.207.118/http://152.42.220.57/