Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Lima Komisi DPRD DKI Sampaikan Rekomendasi Atas LKPJ APBD 2023
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Lima Komisi DPRD DKI Sampaikan Rekomendasi Atas LKPJ APBD 2023
2
Kuasa Hukum Tepis Isu Sarwendah Ajukan Gugatan Cerai kepada Ruben Onsu
Umum
17 jam yang lalu
Kuasa Hukum Tepis Isu Sarwendah Ajukan Gugatan Cerai kepada Ruben Onsu
3
Teuku Ryan Wajib Nafkahi Anak, Ria Ricis Resmi Jadi Janda
Umum
16 jam yang lalu
Teuku Ryan Wajib Nafkahi Anak, Ria Ricis Resmi Jadi Janda
4
Icha Yang Pukau Pengunjung Whiterabit Monteyra
Umum
16 jam yang lalu
Icha Yang Pukau Pengunjung Whiterabit Monteyra
5
Satoru Mochizuki Tetapkan 13 Pemain Timnas Wanita Tampil di Piala Asia Wanita U 17
Olahraga
2 jam yang lalu
Satoru Mochizuki Tetapkan 13 Pemain Timnas Wanita Tampil di Piala Asia Wanita U 17
6
Indonesia Melaju ke Final Piala Uber 2024, Komang Ayu Jadi Bintang
Olahraga
1 jam yang lalu
Indonesia Melaju ke Final Piala Uber 2024, Komang Ayu Jadi Bintang
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Profesor, Jabatan Tertinggi Akademik yang Masih Harus Berinovasi

Profesor, Jabatan Tertinggi Akademik yang Masih Harus Berinovasi
Pengukuhan Ketua BPK RI sebagai Guru Besar STIE Kesatuan Bogor, Selasa (6/2). (Azhari/GoNews.co)
Selasa, 06 Februari 2018 15:54 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti menyatakan jika gelar profesor yang diterima seseorang adalah jabatan tertinggi akademik. Tak lantas bersantai, profesor juga masih harus terus meriset dan membuat jurnal publikasi.

Ali Ghufron mengatakan, menurut Kemenristek No. 20, seorang profesor harus terus berinovasi. "Dalam aturan tersebut intinya begini, profesor harus terus berkarya dan membuat jurnal," katanya dalam acara pengukuhan Moermahadi Soerja Djanegara, Ketua BPK RI sebagai Guru Besar STIE Kesatuan Bogor, Selasa (6/2).

Jabatan tertinggi ini bukan lantas membuat profesor bisa berleha-leha dan menikmati kedudukannya, melainkan masih harus membuat jurnal untuk publikasi. Ali Ghufron pun menambahkan jika Indonesia memiliki praktisi pendidikan dalam jumlah banyak, namun kurang publikasi.

"Saya sempat bertanya dengan beberapa teman dosen Indonesia di luar negeri. Pertanyaannya hanya satu, apa bedanya dosen di Indonesia dan di luar? Jawabannya rata-rata sama, karena dosen di sini banyak yang mengajar, kurang meneliti," katanya.

Kembali ke peraturan Kemenristek, aturan tersebut tak lantas diterima profesor dari banyak universitas, Ia pun menerima banyak protes. Namun, Ia pun menyampaikan jika hasilnya sangat membanggakan.

"Hasilnya, Indonesia punya publikasi terindeks bagus mengalahkan Thailand, setelah 20 tahun lebih kita tak pernah dapat," tambahnya.

Sementara itu, Moermahadi Soerja Djanegara yang ditemui sesuai meraih jabatan Guru Besar pada STIE Kesatuan Bogor mengatakan apa yang akan dilakukan setelah ini.

"Seperti yang Pak Ali Ghufron katakan kita harus terus lakukan penelitian dan pengajaran, membimbing juga bagaimana teman-teman yang ingin meraih doktor atau profesor terus kita bimbing," katanya. ***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik, Jawa Barat
wwwwwwhttps://143.198.234.52/sonic77https://159.223.193.153/https://64.23.207.118/http://152.42.220.57/