Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalahkan Li Shi Feng, Joko Jaga Peluang Indonesia Rebut Piala Thomas 2024
Olahraga
23 jam yang lalu
Kalahkan Li Shi Feng, Joko Jaga Peluang Indonesia Rebut Piala Thomas 2024
2
Indonesia Tertinggal 0-2 Atas China, Fajar/Rian: Liang/Wang Lebih Berani dan CerdikĀ 
Olahraga
23 jam yang lalu
Indonesia Tertinggal 0-2 Atas China, Fajar/Rian: Liang/Wang Lebih Berani dan CerdikĀ 
3
Indonesia Runner Up Piala Thomas, Bakri Kesulitan Keluar dari Tekanan
Olahraga
20 jam yang lalu
Indonesia Runner Up Piala Thomas, Bakri Kesulitan Keluar dari Tekanan
4
Ketua FKDM DKI Sebut Kinerja Pj Gubernur Sudah Bagus
Pemerintahan
3 jam yang lalu
Ketua FKDM DKI Sebut Kinerja Pj Gubernur Sudah Bagus
5
Ketua Umum Forkabi Nilai Heru Budi Layak Pimpin Jakarta
DKI Jakarta
3 jam yang lalu
Ketua Umum Forkabi Nilai Heru Budi Layak Pimpin Jakarta
6
Pemprov DKI Raih Provinsi Terbaik Tiga Penghargaan Pembangunan Daerah
Pemerintahan
3 jam yang lalu
Pemprov DKI Raih Provinsi Terbaik Tiga Penghargaan Pembangunan Daerah
Home  /  Berita  /  Riau

Menkeu Sri Mulyani Mengaku Sakit Perut Dengar Janji-janji Kampanye Jokowi

Menkeu Sri Mulyani Mengaku Sakit Perut Dengar Janji-janji Kampanye Jokowi
Menkeu Sri Mulyani. (bisnis.com)
Kamis, 30 Januari 2020 17:42 WIB
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengaku saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan janji-janji dalam kampanye pemilihan presiden pada 2019 lalu, dirinya sempat sakit perut mendengarnya.

Dikutip dari vivanews.com, diantara janji-janji kampanye Jokowi yang membuatnya sakit perut adalah kartu-kartu sakti.

''The beauty of election, tapi hanya menjanjikan apa yang gratis, apa yang gratis, saya banyakan sakit perut. Ya curcol itu waktu selesai election, bill-nya datanglah itu,'' kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara di acara Bank Dunia, Aspiring Indonesia- Expanding Middle Class di Soehanna Hall, The Energy Building, Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Dikatakannya, dia sakit perut, karena harus menyesuaikan kembali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan kebutuhan untuk merealisasikan janji-janji itu. Apalagi, janji kampanye saat itu yang paling jadi andalan adalah kartu prakerja.

''Salah satu yang dipromise presiden kartu prakerja Rp10 triliun, saya tanya ini gimana caranya. Pak Presiden bilang pokoknya campaign dulu. Kartu prakerja Rp10 triliun untuk dua juta orang, cari ini supply demand-nya gimana,'' tuturnya.

Namun, lanjut dia, janji kampanye tersebut ternyata sejalan dengan tujuan utama pemerintah untuk memperbaiki kualitas sosial masyarakat Indonesia. Hal itu menjadi salah satu cara untuk menjaga ketahanan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah dan memacunya untuk naik kelas.

''Memperkuat middle class akan dilakukan banyak policy choices melalui direct transfer memberikan akses education, training dan lain-lain, policy instrument menjadi beragam, bahkan dengan fiscal instrument policy,'' papar dia.***

Editor:hasan b
Sumber:vivanews.com
Kategori:Ekonomi, Riau, Pemerintahan
wwwwwwhttps://143.198.234.52/sonic77https://159.223.193.153/https://64.23.207.118/http://152.42.220.57/